Tampilkan postingan dengan label penyakit. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label penyakit. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 14 Juli 2012

Dulu Jantung Paling Mematikan, Sekarang Stroke

img

Penyakit-penyakit yang menjadi penyebab kematian terbesar di Indonesia mulai mengalami perubahan. Jika dulu serangan jantung paling banyak memicu kematian, sekarang sudah digantikan oleh penyakit-penyakit terkait otak terutama stroke.

"Dulu jantung paling banyak memicu kematian, tapi di Indonesia sekarang ganti stroke. Sekarang bergeser ke penyakit serebrovaskular, artinya berhubungan dengan otak," kata Plt Menteri Kesehatan, Prof Ali Gufron Mukti dalam kunjungan ke lokasi pembangunan RS Pusat Otak Nasional di Cawang, Jakarta Timur,seperti ditulis Minggu (10/6/2012).

Di Indonesia, berbagai penyakit yang berhubungan dengan otak cenderung meningkat karena populasi lansia (lanjut usia) terus meningkat. Saat ini perbandingan populasi lansia mencapai 11-12 persen dan diperkirakan akan terus tumbuh sampai 25 persen.

Selain stroke, berbagai penyakit yang berhubungan dengan otak dan banyak diderita oleh lansia adalah gangguan gerak, serta demensia atau pikun. Pada lansia, berbagai penyakit itu muncul karena fungsi otak mulai mengalami penurunan sebagai dampak dari proses penuaan.

Sementara itu, penyakit-penyakit otak yang juga banyak diderita kaum muda antara lain adalah gegar otak akibat trauma kecelakaan lalu litas. Dampak yang bisa diakibatkannya bisa sangat beragam, mulai dari amnesia atau hilang ingatan hingga lumpuh.

Karena itu, Prof Gufron menilai keberadaan RS Pusat Otak Nasional sangat penting untuk memberikan pelayanan yang komprehensif dalam menangani berbagai macam gangguan pada otak. Apalagi kasus kematian akibat stroke cukup sering terjadi, kurang lebih mencakup 8 dari 1.000 kematian di Indonesia.

Selain bisa menjadi pusat pendidikan dan penelitian, RS Pusat Otak Nasional diharapkan menjadi pusat rujukan nasional. Terlebih dari 450 tempat tidur yang tersedia nantinya, 67 persen dialokasikan untuk kelas 3 yang artinya bisa dimanfaatkan oleh masyarakat miskin atau hampir miskin.

Rabu, 11 Juli 2012

Banyak Minum Air Putih Pangkas Risiko Diabetes

img

Bila ingin menjauhi risiko diabetes, ada baiknya Anda mengganti minuman bersoda dan minuman manis lainnya dengan air putih. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa banyak minum air putih dapat menurunkan risiko diabetes.

Peneliti di Harvard School of Public Health menemukan bahwa mengganti minuman manis dengan air putij dapat membantu mencegah gangguan metabolisme, yang pada gilirannya dapat memangkas risiko diabetes.

Temuan ini didasarkan pada penelitian kebiasaan minum pada 83.000 wanita yang sudah dipelajari selama lebih dari satu dekade (10 tahun). Seiring waktu, sekitar 2.700 dari partisipan mengembangkan diabetes.

Wanita yang minum minuman bersoda dan jus buatan memiliki risiko diabetes lebih tinggi, sekitar 10 persen lebih tinggi untuk setiap gelas yang dikonsumsi setiap hari.

Tim peneliti memperkirakan bahwa jika wanita mengganti satu gelas minuman bersoda atau jus buah buatan dengan satu gelas air putih, maka risiko diabetes akan turun sekitar 7 hingga 8 persen.

"Meskipun penurunan risiko tidak terlalu besar, karena diabetes begitu umum dalam masyarakat kita, tapi bahkan 7 atau 8 persen penurunan risiko sudah cukup besar dalam hal populasi," jelas Dr Frank Hu, pemimpin penelitian dari Harvard School of Public Health, seperti dilansir Dailymail, Minggu (3/6/2012).

Studi Dr Hu, yang telah diterbitkan di American Journal of Clinical Nutrition, juga menemukan bahwa kopi tanpa gula atau teh mungkin menjadi alternatif yang baik untuk menggantikan minuman manis.

Para peneliti memperkirakan bahwa mengganti satu gelas minuman bersoda atau jus buah dengan satu cangkir kopi atau teh bisa mengurangi risiko diabetes sebesar 12 menjadi 17 persen.

Dr Hu mengatakan penelitian ini penting dalam menunjukkan bahwa jus buah buatan tidak optimal untuk dijadikan pengganti soda atau minuman manis lainnya.

"Kenyataannya adalah jus buah buatan mengandung jumlah kalori yang sama dan gula sebagai minuman ringan. Intinya bahwa air putih adalah salah satu pilihan yang bebas kalori yang terbaik untuk minuman dan jika air terlalu polos, Anda bisa menambahkan perasan lemon atau jeruk nipis," jelas Dr Hu.

Ini Alasan Penderita Diabetes Perlu Olahraga

img
Olahraga memang diketahui bisa membantu mencegah terjadinya pengembangan penyakit yang berkaitan dengan gaya hidup tidak sehat, salah satunya adalah diabetes tipe 2 yang sebagian besar akibat gaya hidup.

Ada beberapa alasan yang membuat penderita diabetes pelu melakukan olahraga, yang pertama untuk mengurangi tingkat gula darah dan kedua untuk mempertahankan berat badan yang sehat. Pada penderita diabetes tipe 2 olahraga penting untuk manajemen berat badan yang lebih baik.

Selain itu olahraga dapat meningkatkan efisiensi insulin, menurunkan tekanan darah, mengurangi kolesterol jahat, membangun kekuatan otot serta mengontrol gula darah yang dimiliki, seperti dikutip dari Timesofindia, Selasa (3/7/2012).

Untuk itu dengan olahraga teratur bisa membantu mengontrol penyakit ini. Olahraga yang bisa dilakukan meliputi latihan kekuatan yang diselingi kardio seperti latihan beban, berlari.

Sebelum melakukan olahraga, pastikan penderita memeriksakan diri ke dokter untuk mengetahui kondisi kesehatannya secara menyeluruh. Jika lampu hijau sudah diberikan oleh dokter, maka ada beberapa tips yang bisa dilakukan penderita diabetes saat olahraga yaitu:
  1. Jika mengalami sakit misalnya merasa lemah, peningkatan denyut jantung dan berkeringat lebih dari biasanya selama berolahraga maka segera berhenti. Ini untuk menghindari kerusakan jaringan dan juga sendi.
  2. Jangan lupa untuk mencatat kadar gula darah sebelum dan setelah olahraga.
  3. Pastikan membawa makanan ringan yang manis disaku saat olahraga, jika merasa gula darah turun segera konsumsi.
  4. Kenakan sepatu yang nyaman untuk menghindari luka atau cedera.
  5. Mengonsumsi air yang cukup sebelum melakukan olahraga.
Selain olahraga dengan teratur, ada hal lain yang perlu diperhatikan agar diabetes tetap terkontrol dan tidak mengganggu kehidupan yaitu manajemen stres dengan lebih baik, serta melakukan pemeriksaan secara teratur.

Pengidap Diabetes Sudah Harus Bersiap Jika Mau Ikut Puasa

img
Bulan puasa baru dimulai beberapa hari lagi, namun pengidap diabetes harus sudah mempersiapkannya jauh-jauh hari. Bukan cuma seminggu dua minggu sebelumnya, persiapan puasa bagi para pengidap diabetes harus dilakukan selama 2 bulan.

Persiapan jauh-jauh hari sebelum mulai berpuasa perlu dilakukan karena sistem metabolisme tubuh memerlukan proses adaptasi. Bagi pengidap diabetes, perubahan pada sistem metabolisme tersebut bisa menyebabkan gangguan-gangguan kesehatan yang membahayakan.

"Sebaiknya sih diatur paling nggak selama 2 bulan. Diadaptasi minum obatnya, cairannya dan juga olahraganya," kata Dr Agasjtya Wisjnu Wardhana, SpPD, FINASIM, Humas Perhimpunan Ahli Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) dalam simposium awam tentang puasa di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Senin (9/7/2012).

Menurut Dr Wisjnu, seseorang yang mengalami lapar dalam arti tidak makan selama 8 jam atau lebih akan mengalami penurunan kadar gula darah. Normalnya, tubuh akan mengimbanginya dengan sistem kontra hormonal untuk meningkatkan kembali kadar gula darah.

Karena selama puasa tidak boleh makan, maka tubuh akan menggunakan sumber lain untuk diubah menjadi gula misalnya lemak dan protein. Efeknya adalah, peningkatan kadar gula darah terjadi secara tajam dan bisa membahayakan para pengidap diabetes melitus.

Selain itu, mekanisme kontra hormonal ini juga akan menyebabkan sifat asam pada darah yang dikenal dengan istilah ketoasidosis. Risiko lainnya adalaah penyakit hiperosmolar, yang juga merupakan komplikasi diabetes melitus akibat lonjakan kadar gula darah.

Sementara Dr Tri Juli Edi Tarigan, SpPD mengatakan bahwa pengidap diabetes yang ingin menjalankan ibadah puasa perlu berkonsultasi dengan dokternya. Sebagian besar proses adaptasi lebih terkait dengan pengaturan jadwal minum obat serta dosisnya yang disederhanakan.

"Dokter akan melakukan perubahan-perubahan pada regimen pengobatan. Menyederhanakan, dan menyesuaikan dengan waktu makan. Hal lain yang harus diperhatikan selama puasan adalah harus cukup minum, minumal 8-10 gelas antara berbuka hinggas sahur," kata Dr Tri.